Yuks Nikmati Pesona Bawah Laut Gili Sulat

Panorama bawah laut Gili Sulat, Lombok Timur

Keindahan alam pulau Lombok tidak ada habis-habisnya untuk dijelajahi, apalagi untuk sekedar dibicarakan, termasuk panorama perairan yang mengelilingi pulau-pulau kecil terutama alam bawah laut di sekitarnya.

Diantaranya gili yang berada Desa Sugian Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dua gili di desa tersebut, yaitu Gili Sulat dan Gili Lawang sampai saat ini belum dikenal luas oleh masyarakat. Selain karena minimnya publikasi kedua gili tersebut juga Pemerintah Kabupaten Lombok Timur sendiri belum pernah melakukan promosi potensi pariwisata keduanya.

Berjarak sekitar 90 kilometer dari ibukota propinsi NTB di Mataram. Untuk mencapai kedua gili tersebut tidak sulit, dari terminal Bertais Mataram kita bisa naik angkutan umum berupa mini bus yang oleh masyarakat Lombok biasa disebut mobil engkel jurusan terminal Bertais – Labuhan Lombok dengan ongkos sekitar Rp 25.000 sampai Rp 30.000 dengan jarak tempuh antara 2 sampai 2,5 jam.

Dari Labuhan Lombok, kita bisa melanjutkan perjalanan menuju Desa Sugian dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Kadang-kadang angkutan tersebut juga ada yang mau mengantarkan dari Bertais sampai dengan Desa Sugian jika banyak penumpang yang menuju desa tersebut dengan ongkos Rp. 35.000. (Nanti tanya harga dulu ya sebelum diantar, siapa tahu sudah naik lagi tarifnya).

Jika ingin melalui jalur Mataram-Senggigi-Tanjung-Senaru maka waktu tempuhnya sekira 3,5 jam menuju Desa Sugian, tentunya dengan kendaraan pribadi atau carter.

Dalam perjalanan dari Labuhan Lombok, tepat di perbatasan desa Labuhan Lombok dan desa Gunung Malang kita akan menyaksikan deretan pohon raksasa yang telah berusia ratusan tahun, masyarakat setempat menyebutnya dengan pohon Lian, pohon langka yang konon di dunia hanya ada di tempat tersebut. Diantara sederatan pohon tersebut, di sebelah kanan jalan kita bisa singgah sejenak di pantai LP atau pantai Pidana, pantai milik Lembaga Pemasyarakatan Selong.

Pada era 1960-an di pinggir pantai tersebut dijadikan tempat asimilasi para narapidana. Di tempat ini kita dapat menikmati sejuknya angin pantai dan pada saat air mulai surut kita dapat merasakan keajaiban alam, air tawar mengalir di antara pasir-pasir pantai. Di pantai tersebut kita bisa menyaksikan lalulintas kapal Fery jurusan Pelabuhan Kayangan di Lombok dan Pelabuhan Poto Tano di Kabupaten Sumbawa Barat.

Untuk meneruskan perjalanan ke Gili Sulat dan Gili Lawang, kita harus naik perahu carteran milik masyarakat Desa Sugian atau milik kantor Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) dengan tarif Rp. 250.000 pulang-pergi. (Mudahan tariff belum naik, udah lama sih gak kesana lagi). Jika kemudian ingin melakukan snorkeling atau diving tarif dapat disepakati sesuai dengan lama waktu untuk melakukan kegiatan tersebut.

Gili Sulat dengan luas sekitar 694 hektare dan Gili Lawang sekitar 438 hektare sangat menarik untuk dikunjungi karena mempunyai keanekaragaman hayati (biodiversity) laut seperti hutan mangrove, terumbu karang (coral reef), dan padang lamun (sea grass beds) yang cukup luas, bahkan kadang lumba-lumba menampakkan diri di sekitar perairan ke dua gili tersebut.

Berdasarkan keterangan Ishak, warga sekitar, di ke dua gili yang termasuk dalam kawasan konservasi tersebut terdapat fauna yang dilindungi pemerintah berupa burung Bortong, monyet, ular, kelelawar dan kalajengking. Sedangkan flora berupa mangrove, sawo kecik, prapat, asam dan padang ilalang.

Jangan pernah membayangkan di kedua gili tersebut kita akan dimanjakan dengan kuliner dan tempat penginapan. Karena sesuai dengan kesepakan masyarakat atau dalam bahasa Sasaknya disebut awig-awig di tempat tersebut tidak boleh ada kegiatan ekonomi maupun bangunan. Karena itu agar tidak kelaparan atau kehausan kita harus membawa bekal sedangkan untuk menginap kita bisa menyewa bungalow di dalam komplek KKLD.

Untuk menikmati keindahan bawah laut berupa terumbu karang dan berbagai jenis ikan dapat dilakukan dengan snorkeling pada satu spot yang cukup luas dengan hamparan karang dan padang lamun. Adapun diving dapat dilakukan pada lima spot di sekitar gili dengan meminta panduan dari Sugian Diving Club, sebuah komunitas non profit yang didirikan oleh pemuda setempat dengan tujuan untuk menjaga dan mempromosikan keindahan alam kedua gili baik keindahan darat dan alam lautnya.
Dengan snorkeling dan diving pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan berwarna-warni ikan dari berbagai jenis, dapat menyaksikan terumbu karang yang keras maupun lunak dengan dihiasi berbagai jenis rumput laut. Sungguh pengalaman yang tidak ada duanya.

Nah, siapkah anda untuk berdecak kagum menyaksikan keagungan Tuhan di kedua gili tersebut? Yakin gak pengen nyoba?

Leave a Reply

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar Anda
Nama Anda